KESADARAN YANG SALAH URUS, MEMBUAT HIDUP BERANTAKAN DAN BERDAMPAK KEPADA ORANG LAIN.

Gambar - KESADARAN YANG SALAH URUS, MEMBUAT HIDUP BERANTAKAN DAN BERDAMPAK KEPADA ORANG LAIN.
Kesadaran bukan sekadar kemampuan menyadari apa yang kita pikirkan, rasakan, inginkan, atau yakini. Kesadaran juga menyangkut bagaimana kita mengelola semua itu sebelum menerjemahkannya menjadi keputusan, tindakan, dan perlakuan terhadap orang lain. Seseorang bisa sangat sadar bahwa dirinya marah, tetapi tidak mampu mengelola kemarahannya. Bisa menyadari keinginannya, tetapi mengabaikan tanggung jawab. Bisa merasa dirinya benar, tetapi tidak menyadari kerusakan yang ditimbulkan oleh cara mempertahankan kebenarannya. Di sinilah persoalannya: sadar tidak otomatis berarti bijaksana. Kesadaran yang tidak disertai kemampuan mengelola emosi, menguji pikiran, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengambil tanggung jawab dapat berubah menjadi alat pembenaran diri. Akibatnya, keputusan yang diambil berdasarkan ego bisa merusak hubungan. Keinginan yang tidak dikelola bisa membebani keluarga. Keyakinan yang tidak pernah dievaluasi bisa melahirkan konflik. Bahkan, seseorang bisa merasa sedang memperjuangkan kebaikan, sementara orang lain harus menanggung akibat dari tindakannya. Yang lebih rumit, dampak tersebut tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri. Orang-orang di sekitarnya bisa ikut menanggung beban emosional, kehilangan rasa aman, mengalami kerugian, atau terpaksa membereskan kekacauan yang tidak mereka ciptakan. Karena itu, kualitas kesadaran tidak cukup diukur dari seberapa banyak seseorang memahami dirinya, seberapa tinggi pengetahuannya, atau seberapa fasih ia berbicara tentang pengembangan diri. Kesadaran juga perlu diuji melalui pertanyaan: * Apakah aku mampu mengelola apa yang kusadari? * Apakah aku bersedia mengevaluasi keyakinanku sendiri? * Apakah aku mempertimbangkan dampak tindakanku terhadap orang lain? * Apakah aku berani bertanggung jawab ketika keputusan atau perilakuku menimbulkan kerugian? Sebab, hidup yang berantakan tidak selalu bermula dari kurangnya kesadaran. Terkadang, masalahnya adalah kesadaran yang tidak dikelola dengan baik. Dan ketika seseorang terus-menerus gagal mengelola dirinya, orang lain bisa ikut membayar harga dari kegagalannya. Kesadaran yang matang bukan hanya membuat kita memahami diri sendiri, tetapi juga membuat kita lebih bertanggung jawab atas kehidupan yang bersinggungan dengan diri kita.
0
0